Rabu, 25 Juli 2012

Potret Kehidupan Dari Orang-Orang Pinggiran

,

Ini adalah catatan lama, namun tetap aktual jika mengingat berbagai berita yang mengekpos gaya hidup para petinggi negara yang jauh dari sikap sederhana. Di balik bintang gemerlap potret kalangan atas, nun jauh di sana, berjuta rakyat bergelimang dengan lumpur kemiskinan. Ki Nener adalah kisah yang kembali muncul, saat saya memandang realitas sekarang ini.

Program TV Orang Pinggiran dan Andai Aku Menjadi, seringkali menjadi tontonan keluarga selepas magrib. Potret hidup orang-orang susah kami anggap dapat membentuk kami dan terutama anak-anak menjadi orang yang senantiasa bersyukur dan berbelas kasih pada yang kurang beruntung.

Terutama karena akhir-akhir ini, Dik Rani Putri kedua kami seringkali melakukan aksi ngambek dan rewel ketika meminta-minta sesuatu yang kami tidak penuhi. Ada saja yang dimintanya sepanjang hari. Berbagai jenis camilan atau makanan yang dilihat di iklan Tv atau seperti yang dimiliki temannya.Atau yang mencengangkan, dia pernah pengen rumah mewah seperti yang ditayangkan di program Griya Unik, harganya barangkali diatas 3 M. Weleh…weleh..Please deh…

Bahkan pernah suatu saat ketika kami berbelanja di toko dia minta di belikan sesuatu, dan karena tidak kami belikan (bukan karena nggak ada uang, tetapi lebih sebagai upaya mendidik dia cermat menggunakan uang) dik rani nangis sampai ndlosor ndlosor, berguling-guling di lantai depan toko.

“Biarin aja Yah, “ bisikku pada suami. Karena kalau tidak dia bakalan mengulang perilaku seperti itu, sebagai senjata untuk memaksa kami memberikan apa saja yang dia mau.Kami cuekin dia (karena di beri pengertian baik-baik udah nggak mempan), kami terus berjalan ke arah parkir motor. Akhirnya dia yang nyerah, sambil tetap nangis sesengukan (maafkan Bunda nak, Bunda hanya ingin mendidikmu menjadi manusia yang baik)

Saya dan suami tumbuh di keluarga sederhana. Ayah saya hanya pegawai negeri (golongan IIIb ketika meninggalnya), suami saya malah ayahnya hanya PNS golongan II dengan 6 anak.Kami tidak pernah menyesali itu. Justru kami bangga pada para orangtua kami.Karena orangtua kami justru telah memberikan warisan yang sangat berharga. Kecintaan pada ilmu, kebersahajaan, harga diri, kejujuran, kerja keras dll.

Saya tidak benci atau dendam pada seorang kawan kecil saya yang dulu pernah mengolok-olok ” Rumah Kamu kok kaya kandang kebo seh”. Saya juga tidak menyesal karena Bapak tak mampu membiayai kursus bahasa inggris yang sangat saya inginkan waktu itu. Suami saya juga tidak pernah marah karena harus membantu ibunya berjualan gorengan waktu kecil.

Pengalaman masa kecil yang sangat bersahaja (atau kalau tidak, boleh juga disebut sengsara ha…ha.. :) membuat saya dan suami tak ingin anak-anak kami tumbuh jadi anak manja dan sombong. Kami ingin kenalkan kerasnya hidup pada mereka. sambil tentunya juga kami limpahi mereka dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang bersahaja. Tak perlu kemewahan. Simpel tetapi berarti.

Begitulah, sambil menonton potret kehidupan orang susah seringkali setiap petang. Dipeluklah dik rani oleh ayahnya. Sembari menambahkan penjelasan : ” Lihat tuh dik, rumahnya hanya dari gedhek, makannya hanya sama sambal atau garam. Tapi ibu itu bersyukur dik”. ” Lihat, dia rajin sholat dan berdoa. “ ” Dik, kasian banget bapak itu sampai sesak napasnya karena kerjanya berat banget”. ” duh kasian ya, sudah sakit nggak punya uang buat ke dokter”….

Di saat-saat seperti itulah, tak bisa tidak aku selalu mengingat satu potret keluarga miskin. Orang menyebutnya Ke Nener (Ki Nener) karena pekerjaannya mencari nener (anak ikan). Mereka sekeluarga : Ki nener yang sudah setengah baya, istrinya yang terlihat masih muda, dan anak semata wayang mereka berumur 1 -2 tahun, tinggal di gubuk reyot menempel di belakang pagar rumahku. Numpang di pekarangan salah satu tetangga.Di kebun bambu.

Pagi buta Ia telah berangkat ke pantai, mencari nener. terkadang istrinyapun ikut membantu, dan mungkin karena beratnya beban pekerjaan, si anak batita mereka tinggal sendiri di rumah.Menjelang tengah hari, tak jarang si bocah malang tersebut menangis meraung-raung. entah karena lapar atau karena mencari ibunya. Saat itu biasanya ibuku akan menugaskanku mengantar sepiring nasi untuk si bocah. Dan setelah itu si bocah berhenti menangis.

Selepas maghrib, saat penat di tubuh mereka menggunung. Sekeluarga yang bersahaja itu selalu terlihat bertilawah bersama. Membaca ayat-ayat Allah di keremangan malam yang hanya berterang lampu teplok di teras rumah mereka.Subhanallah Di manapun sekarang mereka…. Semoga Allah memberikan keselamatan, rizqi dan kebahagiaan untuk mereka. Amiin…

LIhat : Catatan Widyanti