Minggu, 29 Juli 2012

4 Pengalaman Terbaik Hidup Bersama Masyarakat Dayak (FULL PIC MENARIK)

,

Pengalaman Hidup Bersama Masyarakat Dayak yang Mengubah Cara Pandangku tentang Mereka

Kurang lebih beberapa tahun ini, saya hidup bersama dengan masyarakat Suku Dayak di wilayah perbatasan dengan Malaysia, yang terdiri dari beberapa sub suku. Setelah sekian lama menyelami kehidupan masyarakat Dayak, saya bisa mengenal lebih dekat bagaimana keseharian mereka, kekayaan budayanya, cara mereka menta hidup, dll. Banyak kekayaan batin yang telah saya peroleh ketika hidup di tengah berbagai sub suku Dayak. Tentu ada perasaan was-was ketika banyak cerita berkembang tentang masyarakat Dayak pada konflik yang terjadi beberapa tahun sebelum saya masuk dalam dinamika kehidupan mereka. Banyak pandangan negatif yang saya dengar tentang kelompok suku ini. Namun, ketika hidup di tengah-tengah mereka, bergaul bersama mereka, banyak cara pandang bias yang saya serap sebelumnya langsung dikoreksi oleh kenyataan yang saya alami.

Pertama,

Orang Dayak identik dengan terbelakang dan primitif. Hal ini sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. Banyak orang Dayak yang saya kenal justru maju dalam pemikirannya, menduduki posisi-posisi penting di bidang pemerintahan, banyak kaum cendikiawan. Satu hal yang menarik, meskipun ada orang Dayak sudah berpendidikan tinggi, ketika kembali ke kampung halaman, masih tetap menghormati adat-istiadat warisan leluhur. Hukum adat masih tetap diakui dan dihargai di samping hukum positif. Di sini, para pemangku adat, mulai dari Temenggung (Kepala Suku Tertinggi) sampai dengan Kadat (kepala suku di tingkat kampung) masih mengambil peranan penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Segala persoalan terkait dengan pola relasi sosial diatur oleh para perangkat adat. Para pemangku adat masih menjadi orang-orang di garda depan untuk menegakkan aturan-aturan adat. Suara mereka masih didengarkan, meski oleh yang terpelajar sekalipun. Prinsipnya, meski sarjana, pulang kampung harus tahu adat. Salah kata, salah bahasa dengan sesama pasti akan dijatuhi hukuman adat. Dengan demikian, jarang sekali konflik-konflik sosial di antara masyarakat adat yang diselesaikan melalui jalur hukum postif. Dari kasus sederhana, mencuri ayam sampai dengan menghilangkan nyawah orang lain, semuanya diselesaikan terlebih dahulu melalui hukum adat. Makanya, dikenal dalam hukum adat, sebuah sanki “pati nyawah” atau “mengganti nyawah” yang besarnya diatur melalui hukum adat. Dari sini, saya menemukan bahwa sesungguhnya leluhur masyarakat adat Dayak sudah mempunyai kearifan lokal dalam mengatur tatanan masyarakatnya secara cerdas. Jadi, anggapan masyarakat Dayak identik dengan primitif harus dikoreksi kembali.

Kedua,

Masyarakat Dayak tertutup dengan orang luar. Anggapan ini langsung dikoreksi, karena sesungguhnya mereka begitu terbuka dan sangat menghargai pendatang. Prinsipnya: yang datang dengan niat baik, pasti akan diterima dengan hati yang putih. Dan jangan pernah sekali-kali membohongi orang Dayak, kalau masih mau dipercaya dan diterima kehadirannya. Sekali mereka merasa dibohongi dan ‘dimanfaatkan’, maka tiada maaf bagimu. Janji harus dipegang teguh. Jika berjanji untuk mengunjungi mereka apalagi dalam kerangka tugas, seharusnya ditepati. Jika ada pembatalan, karena satu dan lain hal, mohon segera diberitahukan dengan alasan yang jelas, logis, jauh-jauh hari sebelumnya. Jika tidak, maka akan dianggap melanggar hukum adat terkait pembohongan publik. Sanksi adatnya jelas. Meskipun kecil, tetapi mampu “menanamkan rasa malu.” Karena itu, saya bisa memaklumi ketika mantan Menhut RI M.S. Kaban pernah akan dijatuhi hukuman adat ketika hampir tidak jadi mengunjungi masyarakat Iban di Sungai Utik. Siapa pun, tanpa memandang jabatannya akan dijatuhi hukuman adat jika mengingkar janji/berbohong. Karena itu, jika mau diterima sebagai bagian dari hidup mereka, seorang pendatang harus mampu memegang janji dan menghargai tatanan adat yang berlaku. Hati mereka tulus dan mau menerima siapa pun apa adanya, asalkan jangan pernah membuat mereka kecewa.

Ketiga,

orang Dayak dikatakan sebagai penyebab rusaknya hutan-hutan alam di Kalimantan oleh karena sistem ladang berpindah yang diwariskan secara turun-temurun. Saya berani membantah anggapan ini. Mengapa? Sistem ladang berpindah ini menggunakan sistem siklus. Jika sebuah keluarga memiliki 5 bidang tanah, maka tanah-tanah ini akan digilir pengelolaannya secara bergantian setiap tahun. Misalkan satu kepala kelurga memiliki lahan A, B, C, D, E. Tahun ini mereka menggarap lahan A, maka 4 tahun lagi mereka akan kembali menggarap lahan A. Dengan demikian, mereka membirkan tanah mereka memulihkan dirinya sendiri terlebih dahulu dan menjadi subur kembali secara alamiah setelah ditinggalkan selama empat tahun, bahkan 5 tahun. Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada wilayah hutan alam masih perawan yang mereka garap untuk tempat berladang. Semuanya itu dikerjakan dengan tetap mengacu pada hukum adat, sehingga tidak ada yang sembarangan membabat hutan perawan, apalagi hutan adat (milik bersama) untuk tempat berladang. Penyebab utama lajunya kerusakan hutan perawan di Kalimantan, sesungguhnya bukan para petani ladang berpindah, tetapi perkebunan dan pertambangan skala besar. Jangan menjadikan orang Dayak sebagai kambing hitam, sudah jatuh ditimpuk tangga. Sudah alamnya rusak, sungainya keruh, menderita kehilangan tanah, masih dicap sebagai “biang kerok” kerusakan hutan.

Keempat,

untuk memajukan orang Dayak, datangkan investor perkebunan, HPH, dan pertambangan. Saya berani katakan: itu hanya bagian dari propaganda orang-orang yang rakus akan SDA di tanah Borneo. Siapa yang diuntungkan dari adanya perkebunan skala besar, HPH, dan pertambangan? Apakah ada orang Dayak yang menjadi miliader, menyekolahkan anak-anak ke luar negeri karena hasil tambang, perkebunan, dan tebang hutan? Tidak ada! Lalu siapa yang sesungguhnya bersembunyi di balik yel-yel kemajuan yang digembar-gemborkan itu? Investor dan segelintir penguasa dari fee-fee yang mereka dapatkan. Untuk orang Dayak sendiri? Mereka tetap tidak mau mengeruk lebih dari yang diperlukan untuk hidup mereka di alam yang diwariskan para leluhurnya. Siapa yang maju? Hanya Tuhan yang tahu. Bagi mereka sungai, hutan, dan alam yang lestari masih dianggap sebagai nafas dan ibu mereka. Kalau itu dirusak “atas nama kemajuan,” mereka dan anak cucunya akan menderita.

Demikianlah beberapa catatan koreksi atas pemahaman akan orang Dayak setelah bergaul akrab bersama mereka, masuk dalam kehidupan mereka, dan menjadi bagian dari suka-duka hidup mereka selama ini. Prinsipnya: “jangan mengadili orang lain sebelum anda sungguh-sungguh mengenalnya lebih dalam.” sumber pic:eryevolutions

Bonus Artikel Mengenai Dayak.

Manusia Dayak Dipaksa Modern

Dalam proses perjalanannya, masyarakat adat Dayak menghadapi tantangan yang berat untuk tetap bertahan dalam tradisinya. Kini mereka dipaksa untuk ”modern” dari kacamata masyarakat umum dengan keharusan meninggalkan tradisi leluhur yang memiliki nilai-nilai budaya luhur. Demi kepentingan pembangunan yang hanya dimaknai mengejar pertumbuhan ekonomi, keberadaan komunitas adat atau suku terasing dimana pun berada sering kali diabaikan seperti halnya yang dialami oleh orang Dayak. Padahal, cara dan nilai hidup komunitas adat itu penting untuk menjaga bertahannya keanekaragaman budaya. Komunitas adat semestinya harus didorong untuk menjadi bagian komunitas internasional dengan pendekatan pembangunan yang berperspektif budaya dan identitas. Pembangunan mesti didasarkan pada keragaman budaya. Pembangunan, jangan hanya dipahami secara sempit, yakni soal pertumbuhan ekonomi saja. Pembangunan juga berarti untuk mencapai kepuasan intelektual, emosi, moral, dan eksistensi spiritual.
Menurut J.U. Lontaan, kelompok Suku Dayak, terbagi lagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Pada masa lalu, orang Dayak hidup mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka. Namun, kuatnya arus urbanisasi yang membawa pengaruh dari luar, seperti kedatangan Melayu menyebabkan mereka harus menyingkir ke daerah-daerah pedalaman di seluruh daerah Kalimantan.
Orang Dayak mengidentifikasikan kelompok-kelompoknya berdasarkan asal usul daerahnya, seperti nama sungai, nama pahlawan, nama alam dan sebagainya. Misalnya suku Dayak Iban asal katanya dari ivan (dalam bahasa kayaan berarti pengembara), demikian juga menurut sumber yang lainnya bahwa mereka menyebut dirinya dengan nama suku Dayak Jalai, karena berasal dari sungai Jalai, suku Dayak Mualang, diambil dari nama seorang tokoh lokal yang disegani (Manok Sabung) di Tampun Juah dan nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di daerah Kabupaten Sintang. Dayak Bukit (Kanayatn) berasal dari Bukit atau gunung Bawang. Demikian juga asal usul Dayak Simpakng, Kendawangan, Krio, Kayaan, Kantuk, Tamambaloh, Kenyah, Benuag, Ngaju dan lain sebagainya, semua mempunyai latar belakang sejarahnya sendiri-sendiri.
Bicara tentang suku bangsa Dayak memang tidak pernah habisnya. Dayak merupakan sumber ilmu yang ibarat air selalu memberikan dahaga bagi setiap insan, menjadi sumber inspirasi yang begitu melimpah, yang tidak hanya bisa ditakar dalam sebuah buku, penelitian, studi-studi ilmiah, artikel-artikel, atau pun diskusi-debat dari forum ke forum saja.
Setiap kajian dan bahasan tentang Dayak, tidak akan berarti apa-apa jika tidak mengacu pada identitas Dayak yang sesungguhnya. Hanya dengan identitas-lah, maka pembahasan tentang Dayak akan lebih terasa bermakna dan konstruktif. Jika tidak, maka setiap bahasan itu akan terasa sangat dangkal dan tidak ada artinya. Menyelam Dayak tidak bisa hanya terpaku pada satu perspektif saja atau hanya mengacu pada teori ilmu pengetahuan modern. Dayak tidak bisa dikaji dalam perspektif ilmu pengetahuan modern, seperti melalui bidang ekonomi, sosial-politik, kesehatan saja, melainkan harus mengedepankan cara berpikir yang benar, argumentative dan saling berkaitan dengan meletakkan dasar pikiran pada eksistensi Dayak itu sendiri.
Bahasan kali ini bukan berarti penulis ingin mengajak sidang pembaca untuk kembali bernostalgia pada situasi masa lalu, melainkan untuk melihat kembali realitas yang menimpa kehidupan orang Dayak pada masa lalu, dan saat ini. Pada prinsipnya, perkembangan zaman tidak bisa kita tolak, dan tidak bisa terbantahkan, namun bagaimana ditengah arus deras pembangunan dan globalisasi yang begitu masif itu, orang Dayak tetap bisa mempertahankan identitas, terus mewarisi pengetahuan dan kearifan yang mereka miliki dari generasi ke generasi, tanpa putus dan melepas baju identitasnya. Masifnya perkembangan dunia dengan konsep menguasai panggung kehidupan manusia telah menciptakan pelbagai produk-produk yang menindas, tak luput aspek kebudayaan lokal turut terjerembab oleh hegemoni budaya-budaya luar yang sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai asli kebudayaan Dayak. Pelan tapi pasti, kebudayaan luar yang lebih menyuguhkan gemerlap kemewahan, penyamaan selera, instan, dan sebagainya menjadi ancaman serius yang akan menerpa eksistensi Dayak, baik hari ini maupun yang akan datang.
Karena jika tidak, suatu saat nanti maka identitas orang Dayak hanya akan menjadi sebuah balada yang memilukan, yang tergerus oleh arus budaya yang menindas. Tentu saja kita tidak menghendaki kondisi ini terjadi dan membiarkan Dayak kehilangan identitasnya.
Kita bisa melihat generasi muda Dayak saat ini yang sebagian besar sudah tercerabut dari akar budayanya, cenderung lebih membanggakan nilai-nilai budaya luar ketimbang budayanya sendiri, mengagungkan gemerlap modernisasi yang tidak mereka ketahui bahwa itu akan melindas identitas mereka sendiri. Umar Kayam dalam bukunya, Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya, pernah menyaksikan dan juga sekaligus meramal berbagai persoalan dan perubahan sosial yang sudah dan akan terjadi di seluruh wilayah Nusantara yang tempoe doeloe bernama Hindia Belanda ini. Berbagai persoalan dan perubahan sosial yang ia maksud ialah “mencairnya kebudayaan-kebudayaan setempat dari sifatnya yang homogen menjadi lebih heterogen, kemudian yang lebih penting lagi bahwa penerus-penerus nilai-nilai budaya setempat tidak lagi dapat diharapkan perannya, karena orang-orang muda sebagai penerus nilai budaya itu pergi meninggalkan tempat asal atau kampung halamannya untuk memburu ilmu di kota”.
Apa yang disaksikan Umar Kayam adalah sebuah fakta yang terjadi di kampung halaman penulis, sub-suku Dayak Simpakng, di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Karena banyak generasi Simpakng yang pergi ke kota untuk menimba ilmu sehingga nilai-nilai budaya lokal semakin terkikis akibat tidak adanya penerusnya. Banyak tradisi yang musnah, ditinggalkan dan tidak dilestarikan lagi. Memang disatu sisi, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Kabupaten Ketapang, orang Dayak Simpakng-lah yang paling banyak melahirkan generasi-generasi yang berpendidikan. Namun jika dilihat kehidupan budayanya justru banyak mengalami kemunduran.
Sebagai generasi yang sudah banyak ditinggal tradisi leluhur, penulis merasa berada dalam situasi kebimbangan. Sehingga pertanyaan refleksi yang selalu penulis ajukan untuk diri penulis sendiri adalah, akankah kondisi itu kita biarkan terus berlanjut? Tentu saja tidak. Karena penulis yakin kita bangga sebagai orang Dayak. Sebagai generasi yang ‘gamang’, tentu saja kita harus selalu mencari dan terus mencari identitas kita yang sebagian sudah hilang. Jangan biarkan diri kita hanyut dalam buaian kemajuan yang justru akan menghilangkan jati diri kita sebagai anak bangsa Dayak. Karena bicara tentang identitas diri, kita tidak hanya bicara sebatas menyebut kata Dayak saja, melainkan harus memahami dan melestarikan nilai-nilai terkandung dalam identitasnya itu sendiri. (*Frans Lakon Dalam Buku: DAYAK MENGGUGAT)

BONUS LAGI NIH MENGENAI ARTIKEL DAYAK

Sejarah Perjuangan Suku Bangsa Dayak

Sebelum abad XIV, daerah Kalimantan Tengah termasuk daerah yang masih murni, belum ada pendatang dari daerah lain. Saat itu satu-satunya alat transportasi adalah perahu. Tahun 1350 Kerajaan Hindu mulai memasuki daerah Kotawaringin. Tahun 1365, Kerajaan Hindu dapat dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Beberapa kepala suku diangkat menjadi Menteri Kerajaan.

Tahun 1620, pada waktu pantai di Kalimantan bagian selatan dikuasai oleh Kerajaan Demak, agama Islam mulai berkembang di Kotawaringin. Tahun 1679 Kerajaan Banjar mendirikan Kerajaan Kotawaringin, yang meliputi daerah pantai Kalimantan Tengah. Daerah - daerah tersebut ialah: Sampit, Mendawai, dan Pembuang. Sedangkan daerah-daerah lain tetap bebas, dipimpin langsung oleh para kepala suku, bahkan banyak dari antara mereka yang menarik diri masuk ke pedalaman.

Di daerah Pematang Sawang Pulau Kupang, dekal Kapuas, Kota Bataguh pernah terjadi perang besar. Perempuan Dayak bernama Nyai Undang memegang peranan dalam peperangan itu. Nyai Undang didampingi oleh para satria gagah perkasa, diantaranya Tambun, Bungai, Andin Sindai, dan Tawala Rawa Raca. Di kemudian hari nama pahlawan gagah perkasa Tambun Bungai, menjadi nama Kodam XI Tambun Bungai, Kalimantan Tengah.

Tahun 1787, dengan adanya perjanjian antara Sultan Banjar dengan VOC, berakibat daerah Kalimantan Tengah, bahkan nyaris seluruh daerah, dikuasai VOC. Tahun 1917, Pemerintah Penjajah mulai mengangkat masyarakat setempat untuk dijadikan petugas - petugas pemerintahannya, dengan pengawasan langsung oleh para penjajah sendiri. Sejak abad XIX, penjajah mulai mengadakan ekspedisi masuk pedalaman Kalimantan dengan maksud untuk memperkuat kedudukan mereka. Namun penduduk pribumi, tidak begitu saja mudah dipengaruhi dan dikuasai. Perlawanan kepada para penjajah mereka lakukan hingga abad XX. Perlawanan secara frontal, berakhir tahun 1905, setelah Sultan Mohamad Seman terbunuh di Sungai Menawing dan dimakamkan di Puruk Cahu.

Tahun 1835, Agama Kristen Protestan mulai masuk ke pedalaman. Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, para penjajah tidak mampu menguasai Kalimantan secara menyeluruh. Penduduk asli tetap bertahan dan mengadakan perlawanan. Pada Agustus 1935 terjadi pertempuran antara suku Dayak Punan yaitu Oot Marikit dengan kaum penjajah. Pertempuran diakhiri dengan perdamaian di Sampit antara Oot Marikit dengan menantunya Pangenan atau Panganon dengan Pemerintah Belanda.

Menurut Hermogenes Ugang, pada abad ke 17, seorang misionaris Roma Katholik bernama Antonio Ventimiglia pernah datang ke Banjarmasin. Dengan perjuangan gigih dan ketekunannya hilir mudik mengarungi sungai besar di Kalimantan dengan perahu yang telah dilengkapi altar untuk mengurbankan Misa, ia berhasil membapbtiskan tiga ribu orang Ngaju menjadi Katholik. Pekerjaan beliau dipusatkan di daerah hulu Kapuas (Manusup) dan pengaruh pekerjaan beliau terasa sampai ke daerah Bukit. Namun, atas perintah Sultan Banjarmasin, Pastor Antonius Ventimiglia kemudian dibunuh. Alasan pembunuhan adalah karena Pastor Ventimiglia sangat mengasihi orang Ngaju, sementara saat itu orang - orang Ngaju mempunyai hubungan yang kurang baik dengan Sultan Banjarmasin.

Dengan terbunuhnya Pastor Ventimiglia maka beribu - ribu umat Katholik orang Ngaju yang telah dibapbtiskannya, kembali kepada iman asli milik leluhur mereka. Yang tertinggal hanyalah tanda-tanda salib yang pernah dikenalkan oleh Pastor Ventimiglia kepada merek Namun tanda salib tersebut telah kehilangan arti yang sebenarnya Tanda salib hanya menjadi benda fetis (jimat) yang berkhasiat sebagai penolak bala yang hingga saat ini terkenal dengan sebut, lapak lampinak dalam bahasa Dayak atau cacak burung dalam bahasa: Banjar.

Di masa penjajahan, suku Dayak di daerah Kalimantan Tengah sekalipun telah bersosialisasi dengan pendatang, namun tetap berada dalam lingkungannya sendiri. Tahun 1919, generasi muda Dayak yang telah mengenyam pendidikan formal, mengusahakan kemajuan bagi masyarakat sukunya dengan mendirikan Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu, M. Lampe, Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis, Tamanggung Tundan, dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif hingga tahun 1926. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan zaman dan mulai bergerak.

Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anto Samat, Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, ( Luran, H. Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya: Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia.

Tahun 1945, Persatuan Dayak yang berpusat di Pontianak kemudian mempunyai cabang di seluruh Kalimantan, dipelopori oleh J. Uvang Uray, EJ. Palaunsuka, A. Djaelani, T Brahim, ED. Leiden Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI dan Partindo. Akhimya Partindo Kalimantan Barat melebur diri menjadi IPKI. Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan Indonesia dibawah pimpinan Kamuk Tupak, W Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih banyak lainnya.

Sumber : Maneser Tatau Tatu Hiang (Dra. Nila Riwut)


BONUS TERAKHIR TAK KALAH MENARIK DARI ARTIKEL-ARTIKEL DIATAS


Misteri Panglima Burung Panglima Perang Orang Dayak



Hai bro beberapa hari ini kita diramaikan berita tentang kematian orang yang paling di buru di muka bumi ini oleh Amerika yaitu Osama bin laden, kenapa jadi rame ya bro, mungkin karena kontroversi perlakuan jasad obama yang di benamkan kelaut dan juga foto-foto yang beredar di media masa di yakini palsu, ahh nggk habis-habis membahas masalah tersebut ya bro, sekarang kita ke misteri yang satu ini dulu ya bro, up,s mengenai foto panglima burung yang di atas, itu palsu bro..nggk papakan, seep langsung aja ya.



Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat Agung, Sakti, Ksatria, dan Berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, dan sosok tersebut selalu bersinggungan dengan alam gaib. Kemudian sosok yang sangat di dewakan tersebut oleh orang dayak dianggap sebagai Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.
Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.

Ada juga versi yang menceritakan bahwa Panglima Burung adalah gelar yang diberikan kepada seorang Panglima di tanah Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kehidupan sehari-hari panglima ini seperti orang biasa (cuma tidak menikah) dan sosok panglimanya akan hadir jika terjadi kekacauan di tanah Dayak. Begitu juga dengan Panglima Naga. Panglima Naga adalah warga Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Panglima Naga sudah berpulang, namun beliau memiliki keponakan dan keluarga. Salah satu Keponakan Panglima Naga adalah anggota Dewan Kabupaten Sekadau 2004-2009. Jadi Panglima Burung, Panglima Naga adalah sosok yang benar-benar ada. Begitu versi yang di ceritakan.

Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak.
Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.

Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.
Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak?. Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.


Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka.
Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang.
Riuh rendah kehidupan para pendatang tak membuat mereka marah dan tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkungannya adalah orang Dayak Ngaju disebut Danum Kaharingan.
Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.

Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu?

Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis.
Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.


Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual adat yang di Kalimantan Barat dinamakan Mangkuk Merah akan dilakukan untuk mengumpulkan para prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, Mengayau (memenggal kepala) dan membawa kepala yang di anggap musuhnya tersebut kemana-mana dan baru bisa berhenti apabila kepala adat yang dianggap perwakilan Panglima Burung menyadarkan mereka.


Inilah yang terjadi di kota Sampit Kalimantan Tengah beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.
Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah agama manapun dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya.
Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi atau pilihan terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, begitu yang mereka yakini dalam sudut pandang mereka.
Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Dan inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.

Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut.
Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.

Amun ikam kada maulah sual awan ulun, ulun gen kada handak jua bahual lawan pian malah ulun maangkat dingsanak awan pian, begitu yang di ucapkan orang kalimantan khususnya orang Banjar untuk menggambarkan sikap dari orang-orang Dayak.

Oke bro sampai disini dulu cerita tentang Panglima Burung terima kasih atas kunjungannya di blog yang sederhana ini, sampai jumpa. Peace from Kalimantan.

sumber : ( koran banjar, rg.com)